Tuntut Kehadiran Rektor, Mahasiswa ISI Padang Panjang Bertahan di Depan Rektorat, Meski Ditawarkan Dialog Wakil Rektor
Admin Sumbarjaya.id
•
03 September 2026, 14:18 WIB
•
45 views
Padang Panjang, Sumbarjaya.id - Aksi unjuk rasa mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang memasuki fase baru pada Kamis (3/9/2026).
Setelah menyampaikan sejumlah tuntutan terkait fasilitas dan kondisi lingkungan akademik, ratusan mahasiswa memilih bertahan di halaman Gedung Rektorat.
Mereka diduga menolak tawaran dialog dari jajaran wakil rektor, dan diduga bersikeras menunggu kehadiran Rektor, untuk memberikan penjelasan langsung atas persoalan yang dihadapi.
Aksi ini digerakkan oleh Aliansi Mahasiswa ISI Padang Panjang yang menuntut perbaikan fasilitas kampus dan transparansi pengelolaan lingkungan akademik.
Dalam orasinya, mahasiswa diduga mendesak Rektor ISI Padang Panjang hadir secara fisik untuk menjawab poin-poin tuntutan tersebut.
Meskipun Wakil Rektor III, Susasrita Loravianti, dan Wakil Rektor II, Dr. Iswandi, telah menemui massa dan menawarkan penyelesaian melalui diskusi, mahasiswa menilai hanya pimpinan tertinggi kampus yang memiliki kewenangan penuh untuk menjawab isu strategis tersebut.
Konfrontasi damai namun tegang ini berlangsung di halaman Gedung Rektorat ISI Padang Panjang.
Suasana diduga semakin memanas ketika pihak kampus menyinggung prosedur pemberitahuan aksi yang dianggap tidak sesuai aturan (seharusnya 3x24 jam sebelumnya), sementara mahasiswa merasa hak aspirasi mereka harus didengar segera tanpa birokrasi yang berbelit.
Penolakan mahasiswa terhadap jadwal audiensi yang diusulkan pada Jumat besok (4/9/2026).
Yang dilandasi oleh keinginan untuk kepastian jawaban secepatnya. Mereka khawatir adanya pembatasan atau "pencekalan" jika aksi dibubarkan hari ini.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika mahasiswa secara serentak menyatakan, "Apabila nanti malam kami dicekal, kami tidak menjamin peristiwa 2014 akan terulang kembali," sebagai bentuk peringatan keras agar pihak kampus tidak melakukan represifitas.
Pihak kampus berupaya meredam eskalasi dengan membuka ruang dialog. Wakil Rektor III menegaskan kesiapan menjelaskan tuntutan berdasarkan pembagian tugas antar-fakultas (Seni Rupa, Seni Pertunjukan, dan Desain).
Namun, karena Rektor sedang tidak berada di tempat, pihak kampus meminta waktu hingga Jumat pagi pukul 09.00 WIB untuk pertemuan yang lebih terstruktur.
Hingga berita ini diturunkan, mahasiswa tetap bertahan di lokasi, bersiap menginap di kampus demi memastikan suara mereka didengar langsung oleh Rektor. (Edy)
Setelah menyampaikan sejumlah tuntutan terkait fasilitas dan kondisi lingkungan akademik, ratusan mahasiswa memilih bertahan di halaman Gedung Rektorat.
Mereka diduga menolak tawaran dialog dari jajaran wakil rektor, dan diduga bersikeras menunggu kehadiran Rektor, untuk memberikan penjelasan langsung atas persoalan yang dihadapi.
Aksi ini digerakkan oleh Aliansi Mahasiswa ISI Padang Panjang yang menuntut perbaikan fasilitas kampus dan transparansi pengelolaan lingkungan akademik.
Dalam orasinya, mahasiswa diduga mendesak Rektor ISI Padang Panjang hadir secara fisik untuk menjawab poin-poin tuntutan tersebut.
Meskipun Wakil Rektor III, Susasrita Loravianti, dan Wakil Rektor II, Dr. Iswandi, telah menemui massa dan menawarkan penyelesaian melalui diskusi, mahasiswa menilai hanya pimpinan tertinggi kampus yang memiliki kewenangan penuh untuk menjawab isu strategis tersebut.
Konfrontasi damai namun tegang ini berlangsung di halaman Gedung Rektorat ISI Padang Panjang.
Suasana diduga semakin memanas ketika pihak kampus menyinggung prosedur pemberitahuan aksi yang dianggap tidak sesuai aturan (seharusnya 3x24 jam sebelumnya), sementara mahasiswa merasa hak aspirasi mereka harus didengar segera tanpa birokrasi yang berbelit.
Penolakan mahasiswa terhadap jadwal audiensi yang diusulkan pada Jumat besok (4/9/2026).
Yang dilandasi oleh keinginan untuk kepastian jawaban secepatnya. Mereka khawatir adanya pembatasan atau "pencekalan" jika aksi dibubarkan hari ini.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika mahasiswa secara serentak menyatakan, "Apabila nanti malam kami dicekal, kami tidak menjamin peristiwa 2014 akan terulang kembali," sebagai bentuk peringatan keras agar pihak kampus tidak melakukan represifitas.
Pihak kampus berupaya meredam eskalasi dengan membuka ruang dialog. Wakil Rektor III menegaskan kesiapan menjelaskan tuntutan berdasarkan pembagian tugas antar-fakultas (Seni Rupa, Seni Pertunjukan, dan Desain).
Namun, karena Rektor sedang tidak berada di tempat, pihak kampus meminta waktu hingga Jumat pagi pukul 09.00 WIB untuk pertemuan yang lebih terstruktur.
Hingga berita ini diturunkan, mahasiswa tetap bertahan di lokasi, bersiap menginap di kampus demi memastikan suara mereka didengar langsung oleh Rektor. (Edy)